Curhat

Here Our Love Begin | part 1

Here Our Love Begin

Curhat – Here Our Love Begin | part 1Ya, sebenarnya saya juga gak menyangka! Seseorang yang ‘super pemalu’ seperti saya akhirnya bisa merasakan ‘sedikit’ potongan kue enak yang bernama ‘cinta’. Tapi, beginilah lembaran-lembaran cinta di kehidupanku dimulai…

Halo, semuanya. Hari ini saya merasa dag-dig-dug lagi! Mungkin buat kamu yang dulu pernah baca notes di kategori PopLove bakal penasaran dengan kelanjutan hubungan ‘rumit’ antara aku dan si dia. Dan, inilah kelanjutannya…

* * * * *

Hari itu, 15 Juli 2011. Pas liburan sekolah, hari itu ternyata adalah hari raya purnama. Dan di hari sebelumnya, ayah saya ingin kalau kami sekeluarga pergi ke Pura Gunung Salak lagi. Iya, ‘lagi’! Tapi, berhubung kami sudah ke sana beberapa minggu yang lalu, maka ayah memutuskan untuk hanya mengajak saya, sementara adik-adik dan ibu saya di rumah.

Esoknya paginya (tepat di hari jumat, 15 Juli 2011), saya sudah menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke sana. Dan berhubung kami hanya berangkat berdua, maka barang bawaannya tidak terlalu banyak (cuma baju ganti, baju sembahyang dan perlengkapan mandi doang sih~). Sore harinya, kami sekeluarga sembahyang bersama di rumah. Tentu saja, karena hari itu hari raya purnama (terang bulan). Dan, setelah sembahyang kami makan malam. Aku mulai ngobrol dengan ayah.

Saya : “nanti ke sana sama siapa aja?”
Ayah : “sama pak Wayan (teman ayah), terus sama pak Nyoman (ayahnya Made) sekeluarga”
Saya : *glek* “sama si Made dong???”
Ayah : “iya, ‘kan nanti kamu bisa ngobrol sama dia di sana” (mulai mancing-mancing saya lagi)
Saya : “iya juga sih” (sambil bergumam) “jam berapa berangkat?”
Ayah : “nanti habis makan. barang-barang udah siap?”
Saya : “udah kok. nanti pak Wayan numpang di mobil kita?”
Ayah : (berlalu, gak ngedengerin lagi kayaknya)

Dan setelah percakapan singkat itu, saya males nanya-nanyain lagi. Ah, paling-paling pak Wayan bakal numpang di mobil kami, soalnya beliau cuma sendirian ke sana. Dan pak Nyoman sekeluarga juga bakal pakai mobilnya sendiri. Kira-kira jam 8 malam, ayah langsung menyuruh saya siap-siap. Dan setelah kami berpamitan sama ibu dan adik, kami keluar rumah. Dan saya pun mulai curiga! Ayah malah mengeluarkan motornya, dan menyuruh saya naik?!

Dengan membawa 2 tas berisi barang bawaan dan 1 bakul berisi sajen buat sembahyang, saya dan ayah saya mulai pergi. Tapi tunggu, pergi ke mana??? Masa’ mau ke Bogor naik motor??? Apa ke rumah pak Wayan?

Saya : “mau ke mana pak? ke rumahnya pak Wayan?”
Ayah : “nggak kok, ke rumahnya pak Nyoman. kita sama pak Wayan bakal naik mobil pak Nyoman, bareng sama keluarganya”
Saya : “lho, bukannya pakai mobil sendiri-sendiri?”
Ayah : “kalau kayak gitu repot! lagian mobilnya pak Nyoman muat kok buat semuanya”
Saya : (speechless)

Ya, kini kami sampai di rumah Made, orang yang terus memenuhi pikiranku. Kami dipersilakan masuk oleh pembantunya, lalu disuruh menunggu di ruang tamu. Ternyata keluarganya baru sembahyang purnama waktu itu. Gak lama kemudian, mereka selesai sembahyang. Ayahnya (pak Nyoman) datang menyapa kami di ruang tamu. Gak lupa juga si Komang (adik laki-lakinya Made) yang sangat aktif datang menghampiriku.

Iya, gak tau kenapa, tiap aku datang ke sana, si Komang kayaknya senang banget becanda denganku. Padahal, saya tipikal orang yang kurang begitu suka dengan anak kecil, apalagi yang terlalu aktif seperti Komang. Ya, mau gak mau, saya ladeni saja dia. Cuma becanda kecil-kecilan doang (namanya juga sama anak kecil~). Dan hei, itu dia si Made! Dari ruang tamu, saya bisa melihat kalau dia lagi sibuk menyiapkan barang bawaannya.

Memang, saya belum berani menyapa waktu itu. Dan terakhir kami bertemu, pas saya memberikan kado ulang tahun yang kelihatannya udah ‘basi’ (karena dikasihnya kelamaan~). Tapi hari ini, saya merasakan jantung saya ber-dag-dig-dug dengan sangat kencang! Akhirnya pak Wayan datang juga. Dan setelah semuanya siap, kami mulai masuk ke mobil pak Nyoman. Iya, sepertinya benar kata ayah barusan. Keluarga pak Nyoman (pak Nyoman, istri dan ketiga anaknya) bersama saya, ayah dan pak Wayan, muat di mobil itu!

Dan perjalanan menuju Pura Gunung Salak itu pun dimulai. Malam yang dingin (ditambah dinginnya AC mobil) menemani perjalanan kami. Tapi, kenapa saya malah merasa panas, dan memerah gini? Apa itu karena saya akan merngatakan ‘kalimat itu’ di sana???

~bersambung ke part 2…~

Salam – Agung Rangga

Iklan

0 comments on “Here Our Love Begin | part 1

Apa pendapatmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: