Here Our Love Begin | part 2

Curhat – Here Our Love Begin | part 2Dan perjalanan menuju Pura Gunung Salak itu pun dimulai. Malam yang dingin (ditambah dinginnya AC mobil) menemani perjalanan kami. Tapi, kenapa saya malah merasa panas, dan memerah gini? Apa itu karena saya akan merngatakan ‘kalimat itu’ di sana???

Halo, selamat menikmati weekend-mu. Tapi, sambil bersantai di rumah, yuk sempatkan baca part 2 dari pengalaman saya ini. Jangan lupa baca part 1-nya, biar lebih mengerti jalan ceritanya. Dan, sesuatu yang mendebarkan akan terjadi…

* * * * *

~Sambungan dari : Here Our Love Begin | part 1~

Iya, beberapa hari sebelum hari itu, saya sudah memikirkan ‘strategi’ ini. Masih ingat apa yang saya tuliskan di kartu ucapan selamat ulang tahun yang saya buat untuk dia? Isinya yaitu :

“Kamu pasti menungguku untuk mengatakan kalimat itu ‘kan? Tenang, aku akan segera mengatakannya begitu kita hanya berdua di sana…”

Nah, saat membuat kartu ucapan itu, saya sudah memiliki ‘strategi’ untuk menyatakan perasaan saya padanya, pas nanti kalau kami hanya berdua di Pura Gunung Salak. Tapi, kenapa harus di sana? Apa yang spesial dari Pura itu? Pertama, saya merasa kalau saya berada di sana, saya mendapatkan ‘spirit’ baru. Sesuatu yang membuat hati, pikiran, dan jiwa saya menjadi terasa lebih tenang. Kedua, pemandangan, suasana, dan hawa pegunungan di Bogor yang adem merupakan tempat yang ‘pas’ untuk melaksanakan hal itu.

Maka dari itu, saya sudah bertekad (dengan sangat-sangat bulat!) untuk menyatakan perasaan yang selama ini terkunci rapat kepadanya di sana. Dan, sebuah kebetulan (atau mungkin, takdir?) saya bisa 1 mobil dengannya, menuju ke Pura tersebut. Malam semakin larut, sepanjang jalan tol, saya hanya memutar musik dari ponsel saya. Mobil yang tadinya ramai sama Komang dan gurauan para orang tua, kini sepi (atau gak kedengeran gara-gara saya pakai headset???).

Ah iya, waktu sedang ngantuk-ngantuknya di mobil, saya dapat mention di Twitter dari teman blogger saya Dony. Gara-gara saya bilang kalau saya dan Made ada di 1 mobil, dan kami akan ke Pura bareng, si Dony malah iseng becanda. Dia bilang kalau kami mau ‘bulan madu’?! Apaaa?! Dan jadilah kami saling ngobrol di Twitter, menghilangkan sedikit rasa bosan karena dari tadi ngeliat jalan tol gelap semua~ Eh, ternyata diam-diam, si Made juga sesekali menanggapi obrolan aku dengan Dony~

Oke, akhirnya selama 4 jam perjalanan Bekasi-Bogor, mobil kami sampai di Pura. Terlihat sepi, hanya ada beberapa mobil parkir di sana. Dan pas melihat jam di ponsel, wow, sudah jam 12 malam! Segera kami istirahat sejenak di warung langganan yang ada di bawah pura. Dengan muka memerah karena teh panas (iya panas, bukan hangat!) saya menatap si Made dari kejauhan. Oh Tuhan, berikanlah saya kekuatan untuk mengatakan kalimat itu… (ngomong di dalam hati, biar gak kedengeran~)

Dan kira-kira 5 menit setelah beristirahat sejenak, kami bersiap untuk naik ke atas Pura. Iya, jadi kalau mau sembahyang, harus mendaki beberapa puluh anak tangga dulu untuk sampai ke area utama Pura (lumayan, sekalian olahraga~). Benar dugaanku, malam itu sangat-sangat sepi di sana. Tapi untunglah, masih ada Pemangku (pendeta) yang bisa membimbing persembahyangan Purnama kami. Setelah sampai di area utama Pura, hawa dingin mulai menyerangku.

Dan, kini saya duduk, tepat di sebelah orang yang saya sukai. Di malam yang hanya diterangi oleh cahaya bulan Purnama, dengan aroma wangi dupa, serta semilir angin dari hawa yang suhunya seperti kulkas, kami sembahyang. Sangat khusuk. Jantungku yang tadinya berdegup kencang karena duduk di sebelahnya, kini ritmenya mulai teratur. Tapi tidak untuk nafasku, terasa sesak! Cairan dari hidungku serasa mau meleleh, tapi itu gak boleh! Masa’ di depan dia saya bertampang konyol seperti bocah?!

Nah, selesailah persembahyangan itu setelah air tirtha dipercikkan dan bija (beras) diberikan oleh pemangku kepada kami. Malam semakin gelap, saat itu pukul 1 pagi tanggal 16 Juli 2011. Dan saat menuruni anak tangga, saya memikirkan sesuatu. Ah, iya! Bagaimana kalau saya katakan saja kalimat itu sekarang?! Saat saya mencari dia, ternyata dia sudah lebih dulu sampai di bawah! Maka saya bergegas menuruni tangga, dengan jantung kembali berdegup kencang, dan saya bergumam, tunggu aku!

~Bersambung ke : Here Our Love Begin | part 3~

Salam – Agung Rangga

Apa pendapatmu?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s